“Jangan!” “hentikan!” “letakkan!” “awas!” Pernahkah kamu waktu kecil diteriaki seperti itu? Bisa jadi kata- kata semacam itu merupakan kata- kata yang akrab di telinga kita waktu kecil. Ternyata kata-kata semacam itu berpengaruh negatif saat kita remaja dan besok saat kita dewasa.
Kata-kata semacam di atas membuat kita menuai dua rasa takut yang mendasar dalam hidup kita. Kita mulai belajar merasa takut pada kegagalan ketika kita secara terus-menerus dilarang, dikritik, dibentak dan dihukum saat mencoba sesuatu yang baru atau berbeda. Hukuman fisik dan tidak ditunjukkannya rasa cinta, ancaman-ancaman yang dilontarkan yang membuat kita merasa takut dan tidak aman sering kali mengiringi bentakan dan kritik-kritik seperti ini.
Melalui sikap-sikap yang kita terima ini, dengan super cepat, kita akan percaya bahwa kita terlalu kecil, terlalu lemah, nggak mampu, nggak kompeten, nggak cukup pandai, nggak bisa melakukan segala sesuatu yang baru atau berbeda dengan yang lain. Setiap saat kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang baru atau menantang, reaksi otomatis kita biasanya akan berupa rasa takut, khawatir, gemetar, keringat dingin, dan perut yang berontak melilit-lilit. Ya, nggak? Selanjutnya, dalam hati terngiang-ngiang suara, “saya nggak bisa, saya nggak mampu,…” takut gagal rasa takut akan kegagalan adalah penyebab utama dari banyak kegagalan yang terjadi saat kita mulai beranjak dewasa.
Sebagai akibat kritik merusak yang sering kita terima pada masa kecil, kita sebagai seorang remaja cenderung tidak berani melakukan banyak hal. Parahnya, ini nggak sembuh-sembuh. Sehingga, ketika sudah dewasa pun, kita masih juga tidak berani melakukan banyak hal yang lain or berbeda. Ketidakberanian ini membuat kita tidak mampu menunjukkan seluruh potensi yang kita miliki secara maksimal. Kita akan berhenti bahkan sebelum kita mulai mengerjakan sesuatu untuk pertama kalinya. Bukannya menggunakan akal pikiran kita untuk mencari cara bagaimana mendapatkan apa yang kita inginkan, kita malah menggunakan kemampuan kita mencari-cari alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak mampu, dan mengapa apa pun yang kita inginkan tidak mungkin dapat kita peroleh. Takut ditolak rasa takut kedua yang biasa menghambat kemajuan kita, menciutkan rasa percaya diri, dan menghancurkan impian kita akan hidup bahagia adalah rasa takut akan penolakan. Parahnya lagi penolakan ini seringkali disertai dengan kritikan.
Emosi ini kita pelajari pada masa-masa awal kehidupan kita. Kita biasa melihat ekspresi tidak setuju orangtua kita ketika kita melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, atau ketika kita tidak melakukan sesuai dengan yang mereka harapkan. Sebagai akibat ketidakmampuan kita untuk membuat mereka senang, mereka menjadi marah dan menahan serta menarik cinta serta dukungan mereka yang sebenarnya sangat kita butuhkan sebagai seorang anak.
Rasa takut akan tidak dicintai dan merasa sendirian akan menjadi sangat traumatis bagi seorang anak sehingga dia dengan segera akan menyesuaikan perilakunya sesuai dengan apa yang dia pikir akan disetujui ortunya. Dia kehilangan spontanitas dan keunikan dirinya. Dia mulai berpikir, “saya harus begini! Saya harus begini! Saya harus begini!” Dia akan menyimpulkan bahwa, “saya akan melakukan apa pun yang ayah dan ibu ingin, kalau tidak, mereka tidak akan mencintai saya, dan saya akan sendirian saja di dunia ini!”
Sumber : elfata-online








Assalamu’alaikum..
Ahsanta ya Ahmad..
Blog antum semakin menarik.
Tapi yang terpenting adalah isi dari blog tersebut, yang harus selalu up to date dan kalau bisa original…
Tetap Semangat akhi…
Assalamu’alaikum Wr Wb
Ahlan ya akhi ahmad,perkenalkan ana Fahmi Ali Seff..ana dari jakarta,senang jg ana ktmu nt di blog nt..ana minta tolong,apakah nt pnya silsilah / gabilah bin seff..ana lg mencoba mencari gabilah bin seff tersebut..mohon bantuannya,dan ana permisi barangkali ada tulisan nt yg ana pnjem ( ana akan tetp cantumkan nama nt )..
Mohon balasannya,afwan klo ada yg kurang berkenan di hati akhi..
Syukran
Fahmi Ali Seff
اعرفوا أنسابكم, تصلوا أرحامكم, أو كما قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم